kawaljateng.com - Mengawal Informasi Terpercaya
12 Oktober 2026
Logo Mobile
Kategori

Siswa SRT di Pati Babak Belur Dikeroyok, Pihak Sekolah Membantah

Siswa SRT di Pati Babak Belur Dikeroyok, Pihak Sekolah Membantah
Foto: Siswa SRT Pati babak belur dikeroyok temannya. (Singgih Tri/KawalJateng.com)

PATI, KawalJateng.com - Telah terjadi tindak perundungan di Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) Pati. Korban diketahui kelas X SRT Pati.

Korban mengaku dipukul di bagian kepala hingga lebam dan benjol. Pundak pun nyeri sampai dilarikan ke rumah sakit. Lebih parahnya lagi, korban mengalami pendarahan pada mulut lantaran giginya patah dan lepas.

Korban disuruh gurunya menutupi kasus pengeroyokan ini. Siswa berinisial D itu diminta mengaku luka akibat jatuh dari tangga ketika melakukan pemeriksaan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soewondo sebelumnya.

"Kepala dipukul semua sampai berdarah, pokoknya sampai hitam (pandangan gelap). Terus giginya yang copot satu, patah satu. Ada guru yang nyuruh mengaku jatuh, kalau ditanya bilang aja jatuh dari tangga," ujarnya saat dirawat lanjut di Rumah Sakit Keluarga Sehat Hospital (RS KSH), Jumat, 9 Oktober 2026.

D menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Ia masih merasa nyeri pada beberapa anggota tubuh, serta pusing kepala.

Dewi, selaku orang tua korban menjelaskan jika anaknya dikeroyok oleh 14 teman sekolahnya. Namun, belasan siswa itu tidak diketahui karena korban sempat tak sadarkan diri usai dipukuli.

"Selain gigi copot, pundaknya sakit, lebam, kepalanya benjol-benjol, jarinya gosong. Waktu mediasi di sekolah sudah pada hari Senin, tapi enggak tahu itu orang tua dari pelaku yang siapa," katanya

Sampai detik ini, pihak sekolah belum transparan sehingga Dewi belum tahu mana pelaku pengeroyokan sang buah hati. Apalagi, usai kejadian kekerasan yang menimpa anaknya ia tak langsung diberitahu. Padahal peristiwa kekerasan terjadi 29 September 2026.

Kondisi anak masih trauma akibat pengeroyokan itu. Dewi masih menuntut keadilan bagi anaknya.

Kuasa hukum korban, Agus Purwanto mengatakan pihak SRT tidak kooperatif terhadap kekerasan yang menimpa kliennya. Pihak SRT selalu berkelit akan kejadian bullying itu.

"Setelah kami mintai klarifikasi ternyata di situ ada pertemuan antara guru dan murid, dan orang tua murid yang kami duga pelaku tindak pidana penganiayaan. Ternyata benar ada pengakuan dari orang tuanya mengakui kalau anaknya telah melakukan. Akan tetapi, pihak sekolah merasa dirinya benar dan tidak merasa ada tindak kekerasan," urainya kepada awak media.

Ketika mediasi dengan keluarga korban, pihak SRT malah memojokkan D. D dianggap pemalas bahkan sering tak tertib.

"Kami cek ke SMP D tentang track recordnya, dia tidak pernah melakukan tindak kenakalan remaja sama sekali. Tidak pernah mencuri juga, pelanggaran hukum, seharusnya sekolah mengambil posisi tengah-tengah. Dia (SRT) membela murid (pelaku) yang kita laporkan, itu seakan-akan sekolah memojokkan D," jelasnya. 

Pihaknya telah melaporkan tindak kekerasan ini kepada Kepolisian Resor Kota (Polresta) Pati. Hal ini sudah ke arah kriminalitas.

"Di sini sudah ada undang-undang, bahwa kekerasan terhadap anak ada pasalnya. Biar upaya hukum kita jalankan dulu, biar kita siapkan konsep dulu, kita periksa semua biar jelas. Di sini sekolah melakukan pembiaran, baik itu pengawas maupun kepala sekolah," ungkapnya.

Di sisi lain, Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Kesiswaan SRT Pati Fachrudin Dwi Saputro mengatakan, pihak sekolah mengetahui kejadian setelah mendapat laporan dari siswa. Wali yang bertugas kemudian mendatangi lokasi dan mendapati kejadian telah dilerai oleh siswa lainnya.

“Untuk berita yang sedang viral saat ini, kami sedang mendalaminya bersama tim guru, wali asuh dan wali asrama. Apa pun alasan dan latar belakangnya, kami tidak membenarkan tindakan tersebut,” kata Fachrudin saat ditemui di SRT, Rabu, 7 Oktober 2026.

Setelah kejadian, korban sempat diajak untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Namun, korban saat itu memilih beristirahat.

Pihak sekolah kemudian memisahkan kamar korban dari lingkungan pengasuhan dan tetap melakukan pemantauan. Keesokan harinya, kondisi korban dinilai memerlukan pemeriksaan medis. Korban kemudian dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk mendapatkan penanganan.

“Setelah dirontgen, dari dokter area dada dan leher aman. Hanya ada luka sedikit di bagian gusi. Dinyatakan boleh pulang atau rawat jalan dan diberikan rujukan ke dokter gigi,” jelasnya.

Fachrudin mengatakan, sekolah juga masih mendalami jumlah dan peran siswa yang terlibat. 

Sebab, berdasarkan informasi awal, terdapat siswa yang berupaya memisahkan, sementara lainnya hanya berada di lokasi.

“Jadi kami belum memastikan jumlahnya secara pasti,” tandas pihak sekolah. (Sgh/Red)

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!